Hikmahalinda's Blog

Hutan

Hutan Kerangas

Hutan kerangas merupakan tipe hutan tropis yang memiliki tanah podsol dengan pH 3-4 dan kandungan haranya rendah dan sangat peka terhadap gangguan. Tekstur tanahnya kasar, miskin unsur hara dan sifatnya yang asam membuat hutan kerangas tidak dapat ditanami lagi setelah dibakar (terjadi kebakaran) dan ditebang.

Hutan ini juga umumnya terdapat di daerah dataran rendah, beriklim selalu basah. Hutan kerangas yang paling luas dapat ditemui di tropika bagian timur. Sementara di daerah Malaysia tersebar secara terbatas (tidak merata) begitu juga di Brunei. Hutan ini juga dapat ditemui di Sumatra, Belitung, Singkep, Teluk dan Menamang. Khusus untuk daerah Teluk Kaba, tumbuhan kantung semar banyak dijumpai, namun belum ada penelitian mendalam mengenai hal ini.

Berbeda dengan hutan kerangas di Teluk Kaba, hutan kerangas Taman Nasional Danau Sentarum, Kalimantan Barat, yang pernah terbakar memiliki pohon jenis melastoma polyanthum yang mendominasi hutan setelah terjadi kebakaran.

Hutan Kerangas

 

 

Hutan Kerangas

Umumnya tumbuh diatas tanah podsol, tanah pasir dan keras yang sarang, miskin hara dan pH rendah. Ciri umum ekosistem ini antara lain adalah :

1) Iklim selalu basah;

2) Tanah pasir, podsol; dan

3) Tanah rendah rata.

Cirri-ciri hutan kerangas

kerangas, sebuah formasi hutan dataran rendah yang menarik. menurut suku iban di Kalimantan, kerangas berarti hutan yang tanahnya tidak dapat ditumbuhi padi. tipe hutan ini didominasi oleh jenis pohon berukuran pendek dengan kanopi yang hanya memiliki satu lapisan saja. kerangas daopat ditemukan dalam kawasan yang sangat luas di kalimantan (bahkan disebut-sebut terluas di Asia Tenggara) dan sedikit di Sumatra.tipe tanah kerangas mengandung silika, batu pasir, miskin unsur hara, mudah erosi, dan ditutup oleh lapisan tipis serasah. pada kedalaman satu meter dapat ditmukan lapisan padzol berwarna putih, yang kaya zat besi,dan berfungsi sebagai penangkap air tanah. air tanah berwarna hitam mengandung asam humus dan miskin hara. arsitektur kerangas yang didominasi oleh vegetasi pohon yang rendah dengan kanopi berlapis satu, seragam dan sangat tertutup rapat oleh pepohonan tingkat sapling dan pole(tihang), membuat kita cukup sulit berjalan didalamnya. ciri lainnya tingkat keanekaragaman rendah, dan hanya didominasi oleh tumbuhan karnivora seperti kantong semar (Nephentes sp) dan tumbuhan karnivora “sundew”. bila vegetasi kerangas dibersihkan, akan digantikan oleh vegetasi sekunder (padang) yang waktu tumbuhnya sangat lama. hal itu membuktikan  bahwa bila hutan kernagas dibersihkan, maka lapisan humus yang sedikit akan segera tekordinasi dan hilang kareana erosi.

Hutan gugur daun tropika

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

 

Hutan gugur daun tropika di Trinidad dan Tobago di musim kemarau

Hutan Monsun, disebut juga hutan musim. Hutan monsun tumbuh didaerah yang mempunyai curah hujan cukup tinggi, tetapi mempunyai musim kemarau yang panjang. Pada musim kemarau, tumbuhan di hutan monsun biasanya menggugurkan daunnya. Hutan monsun biasanya mempunyai tumbuhan sejenis, misalnya hutan jati, hutan bambu, dan hutan kapuk. Hutan monsun banyak terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Hutan gugur daun tropika, hutan musim tropika atau hutan monsun (monsoon forest) adalah suatu bioma berupa hutan di wilayah tropika dan subtropika yang memiliki iklim hangat sepanjang tahun, namun mengalami musim kering (kemarau) yang panjang selama beberapa bulan. Walaupun wilayah ini dicurahi hujan hingga beberapa ratus milimeter tiap tahunnya –bahkan lebih, musim kering panjang itu memaksa kebanyakan tumbuhan menggugurkan daun-daunnya, dan dengan demikian mempengaruhi kehidupan makhluk di dalam hutan itu. Itulah sebabnya hutan ini disebut musiman, atau ada pula yang menyebutnya hutan luruh daun.

Dalam bahasa Inggris, bioma semacam ini dikenal dengan istilah-istilah tropical seasonal forest, tropical and subtropical deciduous forest, tropical and subtropical dry broadleaf forest, atau ringkasnya tropical dry forest.

Variasi geografis

 

Sekelompok gajah melintas di hutan monsun di Bandipur, India

Hutan gugur daun ini terutama didapati menggantikan hutan hujan tropika pada garis lintang yang lebih tinggi, yakni antara 10° dan 20°LU serta 10° dan 20°LS. Pada tempat-tempat itu, hutan musim tropika ini acap ditemukan berselingan dengan sabana tropika dan padang rumput tropika; sebagai hasil kombinasi faktor-faktor curah hujan yang rendah, kemampuan tanah menahan air, serta kesuburan tanah setempat. Faktor pembentuk yang lain yang tak kalah pentingnya adalah aktivitas manusia, terutama pembakaran hutan untuk berbagai tujuan (perburuan, lahan perladangan dll.), yang membatasi pertumbuhan hutan secara lokal[1].

Hutan gugur daun yang paling beraneka ragam dijumpai di Meksiko bagian selatan dan di dataran rendah Bolivia. Di samping itu, banyak kawasan hutan gugur daun tropika yang dihuni spesies-spesies yang unik dan endemik, seperti halnya di pesisir Pasifik di barat-laut Amerika Selatan, di wilayah subtropika Amerika Serikat, dan di Afrika bagian tenggara. Hutan-hutan monsun di India tengah dan Indocina terkenal karena keragaman fauna vertebratanya. Sementara hutan-hutan yang serupa di Madagaskar dan Kaledonia Baru dikenal luas karena dihuni oleh banyak taksa yang khas, endemik, serta bersifat reliktual.

Di Kepulauan Nusantara, terdapat pula sebuah sabuk hutan musim tropika, yang melintas di kurang lebih kawasan Wallacea –dari Kepulauan Filipina di sebelah utara, melintasi Sulawesi dan sebagian Maluku, menyeberang ke selatan hingga wilayah Nusa Tenggara, Bali dan Jawa. Keringnya wilayah-wilayah ini terutama disebabkan oleh angin monsun yang membawa perbedaan musiman yang jelas dalam jumlah curah hujan bulanan.

Hutan galeri

Di tempat-tempat yang lebih lembab atau yang berhubungan dengan air tanah yang relatif dangkal, hutan-hutan musim ini berganti dengan hutan yang selalu hijau. Misalnya di sepanjang alur sungai (yang mungkin mengering di bagian atas, namun di lapis bawah tanahnya masih sedikit berair), banyak individu pohon yang tetap hijau karena tidak menggugurkan daunnya. Maka di tempat-tempat semacam ini mungkin terbentuk formasi hutan yang lebih basah seperti hutan hujan tropika, atau sekurang-kurangnya hutan gugur daun lembab (tropical moist deciduous forest). Terselip di antara hamparan hutan monsun yang lebih kering, hutan-hutan di mintakat riparian ini dikenal sebagai hutan galeri (gallery forest)[1].

Beberapa wilayah ekoregion hutan gugur daun, seperti halnya di Dekkan Timur (India), Srilangka, dan Indocina bagian tenggara, dicirikan oleh pepohonan yang selalu hijau.

Karakteristik ekologis

Monyet hanuman di Suaka Margasatwa Chinnar, Kerala, India. Suaka ini salah satunya melindungi formasi hutan musim tropika

Menyusutnya ketersediaan air tanah yang diperlukan tumbuhan untuk hidup, secara periodik dan hingga level yang amat rendah, merupakan faktor pembatas yang menentukan[1]. Hutan ini didominasi oleh jenis-jenis pohon yang menggugurkan daun (deciduous) di bulan-bulan kering, yakni di mana penguapan air melampaui kemampuan penyerapannya oleh akar. Gugurnya daun-daun di awal musim kering ini membantu mencegah kehilangan air yang terlalu banyak, karena air tumbuhan salah satunya menguap melalui daun. Dengan terbukanya tajuk, cahaya matahari leluasa masuk sampai ke lantai hutan dan merangsang semak-semak serta rerumputan tumbuh di lapis bawah.

Hutan gugur daun terutama dipengaruhi oleh adanya iklim musiman, yakni kemarau sekurang-kurangnya selama 4 bulan berturut-turut, dan curah hujan yang relatif rendah. Berdasarkan kombinasi faktor-faktor tersebut, dan juga faktor tanah, dikenal beberapa formasi hutan musim di Indonesia, di antaranya:[1][2][3]

Terbentuk di wilayah-wilayah dengan curah hujan tahunan antara 1.500–4.000 mm, yang dikombinasikan dengan bulan-bulan kering selama 4–6 bulan.

  • Hutan gugur daun kering (tropical dry deciduous forest)

Dijumpai di wilayah-wilayah dengan curah hujan kurang dari 1.500 mm, dan dengan bulan-bulan kering lebih dari 6 bulan setahunnya.

 

Jelarang malabar (Ratufa indica) di sebuah cabang pohon jati di hutan monsun Suaka Harimau Mudumalai, India

Di wilayah yang lebih basah (curah hujan > 2.000 mm; dan 2–4 bulan kering setahun) akan terbentuk hutan hujan semi selalu hijau (tropical semi-evergreen rain forest); sementara di daerah yang lebih kering (curah hujan < 1.000 mm; dengan lebih dari 9 bulan kering setahun) akan terbentuk hutan berduri tropika (tropical thorn forest) dan sabana tropika. Pembedaan hutan-hutan ini di lapangan tidak begitu mudah, karena umumnya ditentukan oleh proporsi jenis tumbuhan yang mencirikan masing-masing formasi hutan itu.[2]

Keanekaragaman hayati

Banyak jenis pohon dominan di hutan-hutan monsun Nusa Tenggara dan Maluku, yang juga terdapat di sepanjang jalur hutan-hutan gugur daun India dan Burma. Di antaranya adalah kemiri (Aleurites moluccana), pilang (Acacia leucophloea), klampis (Acacia tomentosa), sengon (Albizia chinensis, A. lebbeckioides), siwalan (Borassus flabellifer), sonokeling (Dalbergia latifolia), kesambi (Schleichera oleosa), walikukun (Schoutenia ovata), asam jawa (Tamarindus indica), dan lain-lain.[2]

Meskipun secara keseluruhan kekayaan hayatinya lebih rendah daripada hutan hujan tropika, akan tetapi hutan gugur daun tropika dihuni oleh banyak jenis fauna; termasuk aneka monyet, rusa, kucing besar, hewan pengerat, dan bermacam jenis burung. Biomassa mamalia yang hidup di hutan ini bahkan dapat melebihi hutan hujan tropika, terutama pada hutan-hutan gugur daun di Asia dan Afrika. Banyak dari antaranya yang memperlihatkan adaptasi yang luar biasa terhadap kondisi iklim yang sukar ini.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nikmati Hari yang Indah

Desember 2016
S S R K J S M
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Hallo To All

%d blogger menyukai ini: